Friday, 5 July 2013

KERAJINAN SANGKAR BURUNG

      KERAJINAN SANGKAR BURUNG


        Di Desa Jamburejo, Sodo, Paliyan terdapat sebuah tempat kerajinan sangkar burung. Kerajinan ini adalah milik seorang warga asli Sodo yang bernama Bapak Wadi. Pak Wadi telah cukup lama menekuni profesi sebagai pengrajin sangkar burung. Dari yang dulunya hanya sekedar coba-coba, sekarang usahanya ini telah mampu menghidupi keluarga dan menciptakan lapangan kerja bagi beberapa orang di desanya.
            Jenis sangkar yang dihasilkan tempat kerajinan Pak Wadi adalah sangkar untuk burung tunggal, namun biasanya juga melayani bila ada pesanan untuk pembuatan kandang burung kelompok (satu kandang untuk banyak burung). Selama ini hasil kerajinan dari bengkel Pak Wadi cukup diminati oleh pembeli, bahkan beliau telah memiliki beberapa orang pelangganan tetap.  Ukiran fungsional indah pada kerangka sangkar, serutan ruji-rujinya yang halus, serta warna cat dan pliturnya yang cerah merupakan ciri kas dari sangkar burung  yang dihasilkan bengkel Pak Wadi.
            Sangkar burung Pak Wadi memakai bahan baku kayu dan bambu. Beliau memperoleh bahan baku tersebut dengan membelinya dari seseorang yang telah menjadi langganannya. Dalam pemilihan bahan baku beliau tidak pernah sembarangan, karena menurutnya bahan baku sangat menentukan kualitas dari sangkar burung yang dihasilkan. Kayu yang digunakan untuk pembuatan kerangka sangkar biasanya adalah jenis kayu jati yang telah cukup tua. Sedangkan bambu yang dipilih  adalah bambu jawa hijau yang sudah tua dan telah kering.
            Dalam pembuatan sangkar burung, tempat kerajinan Pak Wadi menggunakan  teknik serut dan ukir. Sementara peralatan yang digunakan diantaranya : gergaji, serutan, bor, amplas, gergaji ukir, paku, lem G, dan pion. Proses pengerjaan sangkar burung dilakukan oleh dua orang pekerja. Menurut penuturan salah seorang pekerja, cara pengerjaannya yaitu dengan, pertama menggergaji kayu sesuai ukuran yang telah ditentukan sebelumnya, kemudian kayu tersebut diserut dan diberi ornamen-ornamen ukiran lalu dibor. Kayu-kayu yang telah dibor distel agar saat dipasang bisa pas dan tidak meleyot. Setelah selesai distel dan dirangkai kemudian diberi ruji dan diamplas. Sentuhan yang terakhir yaitu memberi cat atau bisa juga diplitur.
            Dibandingkan dengan sangkar burung yang lain, sangkar burung buatan Pak Wadi memiliki beberapa keunggulan terutama dalam ornamen-ornamen hiasan ukiran fungsional yang ditempatkan secara pas, sehingga menimbulkan kesan yang indah. Ukirannya pun menyeluruh, mulai dari bagian atas sampai bagian bawah. Untuk  jenis ukiran bisanya hanya sekedar improfisasi dan mengira-ira supaya sangkar terlihat lebih menarik, sehingga enak dipandang mata. Namun bila ada pesanan tentang motif kesukaan pelanggan beliau juga bisa mengusahakanya.
            Setiap bulan bengkel Pak Wadi mampu menghasilkan sekitar empat puluh buah sangkar burung. Tapi bengkel Pak Wadi melakukan penjualan setiap dua hari sekali, dan dalam penjualan itu biasanya Pak Wadi mendapatkan penghasilan sekitar tiga ratus ribu rupiah. Sementara dua orang pekerjanya digaji dua puluh ribu dalam sehari, jadi untuk dua hari dan dua pekerja Pak Wadi harus mengeluarkan biaya delapan puluh ribu. Tentu saja jumlah penghasilan beliau cukup besar mengingat dulunya beliau hanya mengeluarkan uang lima belas ribu untuk modal. Menurut beliau selalu berusaha dan tidak mudah putus asa adalah kunci keberhasilannya.

            Selama ini Pak Wadi masih memasarkan hasil produksinya di kota Jogja. Namun bila usahanya ini terus berkembang ada kemungkinan beliau akan memasarkannya ke luar daerah Jogja.

0 comments:

Post a Comment